Sensasi Artis Hot

,
Diberdayakan oleh Blogger.
Alamat IP Semprotku.com Terbaru atau New IP Addres semprot.com

Alamat IP Semprotku.com Terbaru atau New IP Addres semprot.com

Alamat IP Semprotku.com Terbaru atau Situs Dewasa Forum Semprot Buka Bukaan 17 Tahun (BB17) Sensasi Artis Hot Setelah Semprot.com terblokir kali ini berganti nama dengan Semprotku.com walaupun madengan nama Semprotku.com ini masih mengalami hambatan para agan Semprot mania, jngan khawatir karena terdapat cara aternatif untuk membuka Situs Dewasa Forum Semprot Buka Bukaan 17 Tahun (BB17) ini.

Tampilan Semprotku.com atau Situs Dewasa Forum Semprot Buka Bukaan 17 Tahun (BB17)
IP Semprotku.com


Cara mudah membuka Semprotku.com bisa agan buka dengan alamat di bawah ini:

Untuk PC Semprot : http://tinyurl.com/hobiku untuk mobile /
hp (mobile verison): http://tinyurl.com/hobikuhp
http://ow.ly/KNICZ

INI ALAMAT ASLI semprotku.com : http://64.237.43.94/

Itulah Cara Membuka Situs Dewasa Forum Semprot Buka Bukaan 17 Tahun (BB17) Semprotku.com
Pengalaman Indahku Bersama Mbak Reni

Pengalaman Indahku Bersama Mbak Reni

Cerita ini terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Nama saya Ryan. Umur saya masih 21 tahun dan masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.

Saat itu aku dan dua orang temenku lagi kurang kerjaan banget, lalu ada inisiatif dari salah satu temenku..

"Gimana kalau kita ke Malioboro?"
"Yuk, mumpung lagi hari minggu nih"

Lalu kami mengendarai motor menuju ke jalan Malioboro. Sesampainya di sana kami pun tidak langsung memarkirkan motor kami, tapi kami sukanya berputar-putar dulu, lalu motor baru kami arahkan ke jalan Pasar Kembang, tempat prostitusi terkenal di Yogyakarta. Di kiri kanan jalan memang nggak ada PSK yang beroperasi, maklum lagi siang, kalau malam lumayan banyak, biasanya mereka terlihat di dalam bangunan, jarang ada yang mau keluar.

Setelah itu kamipun mulai memacu motor kami lagi ke jalan Malioboro sebagaimana tujuan kami. Lalu kami memilih tempat parkir yang agak sedikit sepi. Kemudian kami berjalan. Cewek-cewek yang berpakaian minim dan seksi yang dengan sengaja memperlihatkan anggota badannya tak terhitung banyaknya. Wah.. Enaknya kalau bisa ngentot sama cewek itu.., kataku dalam hati.

Tidak beberapa lama kemudian, aku melihat seorang wanita, mungkin kalau kutebak umurnya paling dibawah 30 tahun, dengan membawa seorang anak perempuannya, mungkin umurnya baru 8 tahun. Waktu itu sangat banyak pengunjung di Malioboro sehingga jalannya pun harus berdesak-desakan, aku sama teman-temanku pun terpisah oleh banyaknya pengunjung dan secara tak sengaja tangan kiri wanita itu menyentuh 'anu'ku, sedangkan tangan kanannya memegang tangan anaknya. Beberapa detik kemudian..

"Maaf Mas, nggak sengaja tadi kesentuh 'itu'nya?"
"Nggak apa-apa Mbak, kalau mau menyentuh lagi, sentuh aja lagi, saya nggak marah koq, malahan suka" kataku dengan tertawa.
"Yee, maunya"
"Mbak. boleh nanya nggak?"
"Apaa?"
"Koq ke Malioboro nggak sama suaminya, kan kalau ada yang memperkosa Mbak gimana tuh?"
"Yee.. Saya kan bisa jaga diri?"

Entah kenapa kayaknya aku sama dia jadi makin akrab aja, padahal haru saja bertemu, itupun tak sengaja.

"Mbak lagi cari apa nih?"
"Lagi cari sepatu buat si Fitri nih, o iya, kenalin saya Reni, dan ini anak saya, namanya Fitri"
"Ohh gitu, kalau saya Ryan" kataku sambil bersalaman sama Reni dan Fitri.
"Mau saya temanin nggak?"
"Boleh saja saja nggak ngerepotin Mas saja"
"Nggak koq"

Lalu akupun menemanin Mbak Reni dan anaknya mencari keperluan sekolah buat anaknya, sesampainya di dalam toko tersebut, Fitripun mulai memilih sepatu yang diinginkan. Setelah cocok dengan yang diinginkan si Fitri, Mbak Renipun membayarnya di kasir toko tersebut, lalu kami keluar dari toko tersebut.

"Mas ini sebenarnya mau cari apa sih di Malioboro?"
"Mau cari wanita yang seksi dan baik" kataku.
"Sudah dapat belum nih?"
"Sudah koq, nyantai saja"
"Mana dia"
"Ini di hadapanku" ternyata dia baru sadar kalau yang di hadapanku itu adalah dia sendiri.
"Eh Mas ini, bisa aja"
"Bener koq, Mbak Reni cantik, seksi lagi" Mbak Reni pun tersenyum mendengarnya.
"Lalu setelah ini Mas mau kemana nih?"
"Mau kemana ya, pulang aja kali, udah cape nih nemenin Mbak sama Fitri"
"Ohh.."
"Kenapa Mbak, kaya terangsang gitu"
"Nggak apa-apa"
"Kalau Mbak mau kemana nih?"
"Kalau saya sih, langsung pulang saja, mungkin udah ditungu sama ayahnya Fitri nih"
"O ya, boleh tau alamat Mbak nggak, kalau-kalau saja saya lewat rumah Mbak, kan bisa mampir?
"Boleh.. Nih alamat saya" sambil mengeluarkan kartu namanya dari dompetnya.
"Makasih ya sudah nemanin saya sama Fitri"
"Sama-sama, malahan saya yang seharusnya berterima kasih, karena sudah bisa berkenalan sama wanita yang seksi dan secantik Mbak ini"
"Ah Mas ini, bisa saja"
"Ya sudah Mbak, saya pulang duluan ya"
"Dadahh Fitri", salamku pada anaknya.
"Dadah juga Omm", balas Fitri, anaknya.

Lalu aku pun pulang sendiri, nggak tau temanku pada pergi ke mana, emang saya pikirin, kataku. Begitulah awal perkenalanku dengan Mbak Reni.

*****

Lalu pada suatu hari, langit sangat gelap di Yogyakarta, mau turun hujan nih, tapi aku masih 15 menit lagi baru nyampe kos, kemana ya, pikirku, nggak punya teman yang punya rumah/kos di dekat sini, dan tiba-tiba aku teringat akan Mbak Reni, kubuka dompetku, kulihat alamatnya, nggak taunya posisiku saat ini sangat dekat sama rumah Mbak Reni, bahkan dari tempatku sekarang sama rumah Mbak Reni paling cuma beda 10 rumah. Lalu akupun menuju alamat itu, sesampainya di sana aku langsung percaya diri nyelonong saja memasukkan motorku ke dalam pagar tersebut karena pagarnya terbuka begitu saja. Ternyata di sana sudah ada Fitri anak Mbak Reni.

"Halo Fitri", sapaku.
"Ehh Om Ryan, koq bisa tau Rumah Fitri di sini"
"Kan kemarin, Om kan dikasih kartu Mamah kamu"
"Ohh"
"Mamah mana?"
"Mamah lagi ke rumah sebelah tuh"
"Kalau Papah mana?"
"Papah lagi ke Surabaya"

Tidak beberapa saat kemudian hujan turun dengan lebatnya, aku pun duduk di ruang tamu, sedangkan Fitri lagi asyik sama mainannya. Lalu timbul pikiran jorokku, gimana kalau aku bisa making love sama Mbak Reni ya, mumpung suaminya lagi di Surabaya, di sela-sela lamunanku, tiba-tiba Mbak Reni datang dengan keadaan basah kuyup hingga bisa terlihat dengan jelas BH-nya karena dia memakai pakaian yang lumayan seksi.

"Oh Mas Ryan, tungguin ya, saya mau ganti baju dulu"
"Iya Mbak", jawabku lalu dia masuk kamarnya.

Aku yang sedang dalam kedaan gairah tinggi melihat ini adalah kesempatan besar. Aku masuk ke dalam dan langsung memeluk Mbak Reni. Mbak Reni berontak tapi aku dengan kuat terus memeluknya dari belakang hingga kemudian kudorong Mbak Reni ke tempat tidurnya dan kulucuti pakaiannya satu persatu.

"Ryan, kamu mau apa, jangan macam-macam lho!", bentak Mbak Reni, tapi aku yang sudah nafsu terus saja melucuti pakaiannya yang basah.

Dengan cepat aku melucuti pakaian Mbak Reni hingga terpampang jelas tubuhnya yang indah. Kuhisap langsung memeknya yang merah dan seakan minta di'suntik' dengan segera.

"Ryan, mmhh, geli Ryan. Jangan diteruskan Ann, mmhh", keluhnya dan aku masih tetap saja menjilati memek Mbak Reni.

5 menit kujilati memek Mbak Reni, setelah itu kupaksa Mbak Reni melayani kontolku dengan mulutnya sampai Mbak Reni muntah-muntah karena sepertinya memang baru sekali ini dia menagalaminya. Dan 5 menit berikutnya kupaksa kembali Mbak Reni melayani kontolku dengan memeknya.

"Ah, Mbak memeknya keset banget sih. Kan susah masukinnya!" ujarku karena kontolku baru masuk seperempat.
"Ryan jangan Ann, mmhh.."
"Pokoknya Mbak harus melayani saya sampai sore.."
"Jangan Ryan, aduhh sakit Ann"

Tetapi kontolku sudah tenggelam di kenikmatan yang tiada tara. Kupercepat tempo sodokanku, dan Mbak Reni menggeliat dengan keringatnya yang menetes.

"Ayo Mbak, mmhh"
"Mmhh, Ann, Ann"

Dia meronta lalu dihempaskannya tubuhku, kontolku mengayun saja setelah lepas dari memek Mbak Reni. Mbak Reni bangun dan berdiri dalam keadaan bugil.

"Ryan kamu harus bertanggung jawab, Mbak nggak terima kalau kamu yang main di atas"

Dipegangnya kontolku, dimasukkannya lagi ke dalam memeknya. Mbak Reni merem melek menahan kenikmatan kontolku yang lumayan besar.

"Ryan kontol kamu ueenak banget sih, Mbak genjot yah!"
"Iya Mbak, yang cepet ya Mbak"

Mbak Reni terus menggenjot kontolku, dan sekarang ganti aku yang merem melek.

"Uhh.. Ryan sayang, Mbak mau keluar", ujarnya.
"Keluarin aja Mbak", balasku.
"Gantian dong sayang, Mbak capek nih", ujarnya lagi.
"Mbak nungging yah, biar sama-sama enak", usulku.

Mbak Reni menuruti perkataanku. Lalu kucari lubang anus Mbak Reni, karena aku sama sekali belum merasa mau keluar. Kucoba menusukkan kontolku ke anusnya dengan pelan.

"Ryan jangan di situ sayang, Mbak belum pernah, sayang"
"Tenang aja Mbak dijamin enak deh!"
"Ann sakit Ann, ahh. Sakit Ann udah Ann" jerit Mbak Reni setelah kontolku sudah masuk setengah anus Mbak Reni.
"Enak kan Mbak kontolku?"
"He eh enak banget, tapi jangan cepet-cepet yah Ann" Lalu kuhentikan sejenak goyanganku dan..
"Terusin lagi dong Ann, tanggung nih"

Kuteruskan lagi permainanku, sekitar sepuluh menit kemudian aku merasakan ada yang mau keluar dari kontolku.

"Mbak, Ryan mau keluar nih.. Mo bareng nggak?"
"Mmhh, terusin aja sayang, kontol kamu enak banget sih, Mbak juga mau keluar nih.. Mmhh.."
"Mbak mmhh enak banget Mbak"

Tak lama kemudian di kontolku terasa ada rasa hangat yang luar biasa.

"Mbak juga keluar Ann, kontol kamu enak banget ya!"
"Memek Mbak juga luar biasa"

Aku memeluk Mbak Reni dengan erat sambil tiduran di sebelahnya tanpa melepas kontolku di dalam memek Mbak Reni.

"Ryan kamu udah merawanin 2 lubang Mbak. Kontol kamu tuh yang baru pertama kali ngerasain pantat sama mulut Mbak. Ternyata kamu hebat banget deh"
"Mbak, kapan-kapan boleh minta lagi ya!"
"Diatur sajalah, yang penting waktunya tepat"
"Makasih ya Mbak"

Aku dan Mbak Reni berciuman sebelum pulang, dan di ruang keluarga kulihat Fitri ketiduran dengan mainannya dan keesokan paginya kami melakukannya lagi, dan kami melakukannya selama 3 hari berturut-turut, selagi suaminya masih di Surabaya.


E N D
Pengalaman Bercinta dengan Tante Rina

Pengalaman Bercinta dengan Tante Rina

Namaku Donal, umurku 21 tahun, saya tinggal di kota Manado. Saya akan menceritakan pengalaman saya yang benar-benar terjadi dan begitu indah tak terlupakan bersama seorang perempuan yang sudah bersuami, namanya Tante Rina.

*****

Kejadian ini terjadi di medio November 2003 yang lalu, ceritanya berawal dari ketika aku menelepon ke teman saya. Ternyata nomor yang saya tuju salah sambung, malahan tersambung ke nomor rumah orang yang tak saya kenal. Pada saat itu yang mengangkat telpon adalah seorang perempuan yang saya taksir umurnya sekitar 30 tahun, karena suaranya yang begitu sopan dan berwibawa. Saya mencoba untuk mencari bahan pembicaraan lain agar supaya jangan putus, ternyata dia merespon, setelah itu.. Terus saya bertanya kepadanya apakah sudah punya pacar atau belum, dan dia menjawab belum punya pacar (padahal sudah bersuami).

Di dalam pembicaraan kami berdua, saya selalu memancing Tante Rina supaya dia bercerita tentang kehidupan pribadinya, dan ternyata Tante Rina menyembunyikannya, karena didalam pikiran Tante Rina orang yang baru dikenal sudah ingin cari tahu kehidupan pribadinya. Setelah sekian lama kami ngobrol di telpon akhirnya kami mencatat nomor kami masing-masing.

Keesokan harinya saya menelpon dia (Tante Rina). Kali ini pembicaraan ngalor-ngidul, dan saya terus memancing Tante Rina agar mau bercerita tentang kehidupan pribadinya. Memang pertamanya Tante Rina tidak mau bercerita tapi setelah saya bertanya terus akhirnya Tante Rina mau buka rahasia kehidupan pribadinya. Tanpa disadari ketika bicara tentang pengalaman pacaran, dia bilang, mohon maaf kalau sebelumnya dia berbohong kepada saya kalau dia belum punya pacar padahal sudah punya suami.

Tapi hubungannya dengan suaminya tidak terlalu bahagia karena agak bosan, itu diakibatkan suaminya sering melantarkan kehidupan seksnya. Akhirnya saya makin berani dan pasti lalu kutanyakan bagaimana rasanya ketika bulan madunya apakah ada yang sangat istimewa karena saya sama sekali belum pernah merasakan berdekatan dengan wanita (walau itu yang namanya ciuman). Dia bilang, itu sih alamiah.. Kali ini dia tidak malu-malu lagi. Lalu kutanya lagi,

"Gaya apa yang biasa dilakukan".

Tante Rina menjawab kalau suamiku pada awal permainan sangat suka mencium leherku kemudian baru menghisap payudara.. Lalu kutanya lagi,

"Kalau Tante Rina senangnya dimana?".
Lalu Tante Rina menjawab," Aku senangnya kalau lagi diatas perut," balasnya manja.
Masih dipercakapan telepon juga kutanyakan,"Tolong dong Tante ajarin aku".
Jawab Tante," Enak saja.. Cari saja perempuan yang masih single kemudian nikahi.. Bereskan.!," balasnya dengan nada sedikit genit.

Ternyata Tante Rina ini jinak-jinak merpati.. Aku makin menjadi semakin tertantang. Lalu kucoba pancing lagi.
"Iyah deh.. Nggak usah yang berat-berat.. Ciuman aja.." ternyata Tante Rina mulai memberi angin dengan memberi jawaban,
"Lihat saja belum, sudah mau cium-cium.. Entar sudah lihat malah lari.."
Aku menimpa kembali," Siapa yang lari saya atau Tante?"
Dia menjawab," Sudah ketemu aja deh.. Dimana..?"
Saya langsung jawab di" F" restaurant, terus langsung nonton film. Akhirnya diakhir percakapan kami janjian untuk ketemu besok jam 3 sore.

Keesokan harinya tepat jam 3 sore ada seorang wanita rambut panjang, tinggi 165 cm, pakaian kuning dengan rok merah yang seksi, persis dengan janjiannya, pikiranku langsung tak karuan, saya bersumpah saya harus dapat mencium dan menyetubuhinya. Hanya ngobrol sebentar, kami langsung ke bioskop yang terkenal, setalah sampai di bioskop kami beli karcis masuk, kebetulan kami berdua dapat tempat duduk dipinggir.

Setelah film dimulai, didalam celanaku ada terasa yang sangat ganjil ternyata 'torpedoku mulai berdiri kencang'. Kemudian kuberanikan untuk memegang tangannya yang begitu halus dan lembut, ternyata Tante Rina hanya diam saja. Saya berbisik,

"Tante bohong katanya ditelpon bilang sudah nenek-nenek tapi nyatanya masih seperti umur 20-an tahun, beruntung yah suami Tante."
Lalu aku berbisik lagi," Mana janjinya Tante.. Katanya boleh cium, kalau nggak lari.."
Kemudian dia melihat sekeliling," Malu nanti ketahuan orang," saya bilang kembali," Sepi kok Tante.."

Dalam keremangan saya melihat Tante Rina merapat-rapatkan kedua bibirnya untuk membersihkan lipstiknya. Saya mulai mendekatkan bibir saya pada telinga Tante Rina. Busyet wangi sekali, kemudian tanpa ragu lagi saya makin berani mendekatkan bibir saya dipipi Tante Rina dan seterusnya kulumat bibir Tante Rina. Mulanya Tante Rina hanya diam lama kelamaan Tante Rina terbawa arus dan segera melawan lumatanku dengan penuh gairah. Kemudian tanganku mulai kumainkan di sekitar badannya Tante Rina, dan sampai di buah dadanya. Waduh montok sekali buah dadanya Tante Rina, setalah itu langsung kuremas dan pelintir puting susunya. Nafas Tante Rina mulai ngos-ngosan.

Tiba-tiba tanganku disentakkan dan ciuman saya dihentikan. Tante Rina sadar bahwa dia sudah mengkhianati suaminya.

"Sudah dong..!jangan terlalu jauh saya sudah nikah."

Tapi saya tidak mau nyerah sampai disitu, dengan penuh trik saya mulai pegang kembali tangannya dan tanpa rasa ragu tangannya kubimbing ke arah kemaluanku yang sudah besar(kupikir saya pasti ditampar karena kurang ajar). Ternyata Tante Rina hanya diam saja terpaku dengan besarnya barangku, lalu saya keluarkan kemaluanku, saya tempelkan tangan Tante Rina dikemaluanku, Tante Rina terhenyak.

"Nekad kamu"
"Biarin Tante," balasku nakal..
"Besar dan panjang juga barang kamu". Bisik Tante Rina genit..
"Iya Tante, saya sudah tidak tahan lagi," balasku mesra
"Nanti saja keluarin di kamar mandi," goda Tante Rina.
"Enggak mau, pingin sama tangan Tante Rina!" bisikku manja.
"Pusing ya.." Tante Rina terus menggodaku.
"Iyah.." balasku mantap.

Kemudian saya menyuruh Tante Rina untuk mengocok barangku. Saat itu Tante Rina menolak, tapi dengan segala cara yang saya mainkan akhirnya Tante Rina mau juga mengocok barangku yang sudah besar.

"Oooh.. syyhhkk.. nikmatnya.."

Tangan Tante Rina yang super halus dan penuh pengalaman mengocok barangku. Selang beberapa menit"Sreet.. sreett.." keluar sudah spermaku akibat kocokan mesra tangan Tante Rina.

Ketika film selesai saya dan Tante Rina keluar dan jalan-jalan. Kami berdua membeli permen karet dan terus jalan-jalan kembali, makan, hingga tanpa terasa jam menunjukkan pukul 09.30 malam. Kemudian saya bertanya,

"Tante Rina nggak dimarahin sama Om.. pulang terlambat?"
"Tadi sudah bilang ada teman yang ulang tahun, jadi pulang agak lambat.."

Kemudian Saya mengantarnya pulang. Didalam perjalanan pulang terlihat plang hotel, pikiranku mulai nggak karuan. Bawah saja Tante Rina kesini. Tanpa banyak pikir saya langsung membelokkan mobil ke hotel.

Tante Rina protes, "Mau ngapain kesini..?"
"Kita ngobrol.. untuk saling kenal lagi Tante.. Saya nggak akan nakal Tante," balasku mesra, Tante Rina diam saja. Ternyata Tante Rina sudah nggak tahan dan ingin sekali merasakan kenikmatan sesaat walau itu bukan dengan suaminya.

Saya mengajak Tante Rina untuk turun dari mobil, dan kami berdua pergi masuk ke dalam, setelah itu saya memesan kamar. Ketika telah didalam kamar, Tante Rina tampak kikuk, kucoba menenangkannya,

"Santai saja Tante Rina.."

Lalu Tante Rina membuka sepatunya, saya menghampirinya.

Wah Tante Rina badannya lebih pendek dengan saya, tapi nggak ada pengaruh kalau sudah ditempat tidur.

"Tante Rina, saya pingin cium bibir Tante lagi.."

Lalu aku menghampirinya, Tante Rina diam saja. Kemudian kulumat bibirnya. Dengan setengah paksa kubuka bajunya lalu celana panjangnya sampai Tante Rina terlihat bugil, Tante Rina berontak lalu kujepit badannya yang seksi dan montok.

"Donal.. jangan Donal.. jangan maksa dong.."

Saya tidak peduli, dengan cepat saya buka celana saya kemudian dengan sigap kujilati toketnya Tante Rina, sampai ke lubang" V" Tante Rina. Tante Rina merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kemudian saya mengocok-ngocok lubangnya sampai Tante Rina merasakan nikmat untuk yang kedua kalinya. Kemudian kami berganti posisi sekarang gilirannya Tante Rina yang menghisap punyaku, setelah 15 menit kami melakukan pemanasan kumasukkan barangku yang besar dan panjang ke lubang vagina Tante Rina yang sudah basah, dengan cepat kugerakkan punyaku turun naik. Masih barangku menancap di lubang vagina Tante Rina, saya guling-gulingkan badannya sehingga kadang dia diatas kadang dia dibawah. Kami melakukannya dengan penuh mesra.

Lama-lama Tante Rina terangsang juga dan ingin cepat keluar, akhirnya Tante Rina mencapai orgasme. Melihat akan hal itu saya terus mempercepat goyangan. Akhirnya disaat posisi dog style, saya merasakan ada sesuatu yang ingin keluar, srroott.. sroott..

Saya memasukkan semua air mani saya ke lubang vagina Tante Rina. Setelah itu saya jilati bibir kemaluan Tante Rina sampai kemudian Tante Rina orgasme yang kesekian kalinya, lalu kemudian kami berdua terlentang di tempat tidur. Setelah 10 menit kami istirahat, kami berdua mandi. Dan kami melakukannya lagi di kamar mandi. Setelah 10 menit kami melakukannya, belum sempat selesai terdengar bunyi suara HP, yang ternyata dari suaminya. Kami menyudahinya dan Tante Rina mengangkat telpon.

Setelah selesai bicara dengan suaminya di HP, Tante Rina datang berbisik, Donal kamu memang hebat, dibandingkan suami saya. Dan jika Tante Rina ingin berhubungan lagi dengan kamu, bolehkah..? Tante Rina menghubungi kamu lagi. Kemudian saya menjawab,

"Boleh.. saya siap melayani Tante."
"Tante mau pulang pulang dulu karena suami Tante sudah cemas.."

Akhirnya impianku terwujud untuk menyetubuhi Tante Rina yang seksi. Sampai saat ini Tante Rina sering menghubungi saya. Karena suaminya tidak dapat memuaskannya. Dan sekarang Tante Rina sedang mengandung, entah itu punya saya atau suaminya yang jelas Tante Rina sangat puas dengan kenikmatan yang saya kasih.

*****

E N D
Pengalaman Bersama Tante Yossie

Pengalaman Bersama Tante Yossie

Cerita ini adalah sebuah pengalaman saya yang terjadi sekitar 1 tahun yang lalu. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan bersama Tante Yossie. Umur saya sekarang adalah 23 tahun, saya (Donnie) baru saja menyelesaikan kuliah saya di sebuah perguruan swasta yang terkenal di Jakarta.

Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya mempunyai teman bermain yang cukup akrab, namanya Jessy. Dia adalah teman dekat saya sejak perkenalan pertama kali ketika masih duduk di bangku SMP. Karena hubungan kami sangat dekat, maka saya sering bermain ke rumahnya di kawasan Menteng. Hampir tiap minggu pasti saya bermain ke rumahnya, entah untuk mengajaknya pergi atau hanya bermain di rumahnya saja. Karena hubungan kami yang dekat, maka hubungan saya dengan keluarganya cukup dekat pula. Apalagi dengan Tante Yossie, yang tidak lain adalah ibu kandung Jessy. Perlu anda ketahui, Tante Yossie menikah di umur yang sangat muda dengan Om Anwar. Tante Yossie melahirkan Jessy ketika masih berumur 18 tahun. Selain Jessy, Tante Yossie juga mempunyai anak lagi yaitu George yang baru berumur 2 tahun saat itu. Memang perbedaan umurnya dengan Jessy sangat jauh, apakah mungkin Tante Yossie memang ingin mempunyai anak lagi ataukah..? Setiap hari Tante Yossie hanya di rumah saja, sedangkan Om Anwar-nya adalah seorang karyawan perusahaan asing yang cukup sukses. Pada akhirnya ketika baru menginjak SMA tahun ke-2 hubungan saya dan Jessy serta dengan keluarganya putus, ketika ternyata mereka sekeluarga harus pindah ke Jerman untuk mengikuti Om Anwar yang mendapat pekerjaan di Jerman.

Namun kira?kira setahun yang lalu saya mendapat berita bahwa Jessy sedang liburan ke Jakarta. Tentu saja saya senang sekali karena bisa bertemu teman lama saya. Ketika sudah berada di Jakarta, Jessy menelepon saya dan dia menyuruh saya datang ke apartmentnya di kawasan Kuningan. Dan akhirnya saya pun datang bertemu dengan dia di apartmentnya. Ketika datang saya sangat kaget, karena ternyata Tante Yossie sudah tinggal kembali di Jakarta. Tante Yossie ternyata tidak terlalu betah dengan suasana di Jerman, kira?kira setelah 1 tahun di Jerman dia memutuskan bersama George untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Om Anwar dan Jessy tetap tinggal di sana. George sekarang sudah sekolah pada sebuah SD swasta terkenal di kawasan Lippo Karawaci.

Ketika bertemu dengan Jessy maupun dengan anggota keluarganya yang lain, saya sangat senang sekali, karena sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan mereka semua. Namun setelah kira?kira 2 minggu berada di Jakarta untuk liburan, akhirnya Jessy harus kembali ke Jerman untuk meneruskan studinya. Namun setelah 1 minggu Jessy balik ke Jerman, tiba?tiba saya mendapat telepon dari nomor HP yang biasa dipakai Jessy ketika dia berada di Jakarta, dan ternyata setelah saya ingat nomor tersebut adalah nomor HP Tante Yossie.

"Don.. Tante nih, kamu lagi dimana?" tanya si Tante.
"Saya baru saja habis makan siang tuh sama teman saya Tante, ada apa memangnya?" tanyaku kembali.
"Gini.. ada yang aneh sama TV di rumah Tante, kamu bisa tolong kemari tidak?" tanyanya.
"Yah.. bisa deh Tante, cuman kira-kira 2 jam lagi deh yah," jawab saya.

Akhirnya saya datang juga ke apartmentnya untuk membantunya. Setelah sampai di apartmentnya alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Yossie memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi bagiku, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Yossie masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam "BL" seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira?kira 36B. Ketika saya mengecek TV-nya ternyata memang ada yang rusak. Waktu saya sedang berusaha mengeceknya tiba?tiba Tante Yossie menempel di belakang saya. Mula?mula saya tidak menaruh curiga sama sekali mungkin karena dia ingin tahu bagian mana yang rusak, namun lama?lama saya merasakan ada sesuatu yang menempel di punggung saya, yaitu payudaranya yang montok. Setelah TV berhasil saya benarkan, kami berdua akhirnya duduk di ruang keluarganya sambil menonton acara TV dan berbicara tentang kabar saya.

"Don, kamu masih seperti yang dulu saja yah?" tanya Tante Yossie.
"Agh.. Tante bisa aja deh, emang nggak ada bedanya sama sekali apa?" jawabku.
"Iyah tuh.. masih seperti yang dulu saja, cuman sekarang pastinya sudah dewasa dong.." tanyanya.
Lalu belum saya menjawab pertanyaannya yang satu itu, tiba?tiba tangan Tante Yossie sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
"Don.. mau kan tolongin Tante?" tanya si Tante dengan manja.
"Loh.. tolongin apalagi nih Tante?" jawabku.
"Tolong memuaskan Tante, Tante kesepian nih.." jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Yossie yang memiliki rambut sebahu dengan warna rambut yang highlight, saya benar?benar tidak membayangkan kalau ibu teman dekatku sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk "bercinta" dengan Tante Yossie ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
"Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong?" tanyaku sambil bercanda.
"Yah.. kamu pikir sendiri dong, kan kamu sudah dewasa kan.." jawabnya.

Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulailah memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas?remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Yossie juga tidak mau kalah, ia langsung meremas?remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini, apalagi setelah kepulangannya dari Jerman. Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu seperti di atas, Tante Yossie menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya dia langsung melucuti semua baju saya, pertama?tama dia melepas kemeja saya kancing perkancing sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi's saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya. "Wah.. Don, gede juga nih punya kamu.." kata si Tante sambil bercanda. "Masa sih Tante.. perasaan biasa?biasa saja deh," jawabku. Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Yossie yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.

Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba?tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas?remas, sementara itu Tante Yossie terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit?gigit putingnya yang sudah mengeras.
"Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Don.." desahnya.
"Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah?" kataku.
Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitorisnya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu?bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat?jilat kemaluan si Tante dengan pelan?pelan. "Ogh.. Don, pintar sekali yah kamu merangsang Tante.." dengan suara yang mendesah. "Wah.. natural tuh Tante, padahal saya belum pernah sampai sejauh ini loh.." jawabku. Tak terasa, tahu?tahu rambutku dijambaknya dan tiba?tiba tubuh tante mengejang dan aku merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, cuma berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apapun tentunya sudah tidak menjadi masalah.

Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar?benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Yossie sekarang meminta saya untuk memasukan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
"Don.. ayoo dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih," minta si Tante.
"Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana.." tanyaku.
"Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang?tenang aja deh," sambil berusaha meyakinkanku.
Benar?benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya. Walaupun sakitnya juga lumayan. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan, karena masih terasa sakit. "Ahh.. dorong terus dong Don.." minta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali. Mendengar desahannya saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat walaupun rasa sakit juga terasa. Akhirnya saya mulai terbiasa dan mulai mendorong dengan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas?remas payudaranya, sampai tiba?tiba tubuh Tante Yossie mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya. Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar?benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, dan tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
"Oh.. oh.. nikmat sekali Donniie..!" teriak si Tante.
"Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih.." kata saya.
"Sabar yah Don.. tunggu sebentar lagi dong, Tante juga udah mau keluar lagi nih.." jawab si Tante.

Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante. "Arghh..!" teriak si Tante Yossie. Tante Yossie kemudian mencakar pundak saya sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot?otot kemaluannya benar?benar meremas batang kemaluanku. Setelah itu kami berdua letih dan langsung tidur saja di atas ranjangnya. Tanpa disadari setelah 3 jam tertidur, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke dapur. Ketika di dapur saya melihat Tante Yossie dalam keadaan telanjang, mungkin dia sudah biasa seperti itu. Entah kenapa, tiba?tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata?kata, saya langsung memeluk Tante Yossie dari belakang, dan mulai lagi meremas?remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
"Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya?" kataya sambil tertawa kecil.
"Agh Tante bisa aja deh," jawabku sambil menciumi bibirnya kembali.
Saking nafsunya, saya mengajak untuk sekali lagi bersenggama dengan si Tante, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Yossie kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di dapurnya. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya doggie style."Um.. dorong lebih keras lagi dong Don.." desahnya. Semakin nafsu saja aku mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokanku kepada si Tante, sementara itu tanganku menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
"Don.. mandi yuk?" mintanya.
"Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah?" jawab saya.

Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya mendudukkan Tante Yossie di atas wastafel, dan kemudian saya kembali menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
"Hm.. nikmat sekali jilatanmu Don.. agghh.." desahnya.
"Don.. kamu sering?sering ke sini dong.." katanya dengan nafas memburu.
"Tante, kalo tahu ada service begini mah saya tiap hari kalau bisa juga mau," jawabku sambil tersenyum.
Setelah puas menjilatinya, saya memasukkan batang kemaluan saya kembali ke lubang kemaluan Tante Yossie. Kali ini, dorongan saya sudah semakin kuat, karena rasa sakit saya sudah mulai berkurang ataukah saya sudah mulai terbiasa yah? Bosan dengan gaya tersebut, saya duduk di atas kloset dan Tante Yossie saya dudukkan di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini saya sudah mulai tidak terlalu merasakan sakit sama sekali, namun rasa nikmat lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat akhirnya saya "KO" kembali, saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Yossie kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.

Setelah selesai mandi, Tante Yossie memasakkan makan malam untuk kami berdua, dan setelah itu saya pamitan untuk balik ke rumah. Setelah kajadian itu saya baru tahu bahwa kesepian seorang Tante dapat membawa nikmat juga kadang?kadang. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan bersetubuhan. Kami biasanya melakukan di apartmetnya di kala anaknya George sedang sekolah atau les. Dan sering juga Tante mem-booking hotel berbintang dan kami bertemu di kamar.

TAMAT
Penemuan Lubang Kenikmatan

Penemuan Lubang Kenikmatan

Kisah ini terjadi sekian tahun yang lalu ketika aku masih berumur 15 tahun. Aku bersekolah di sebuah SMP favorit di kotaku dan ketika itu masih duduk di kelas 3 SMP. Aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara dengan kakakku yang tertua telah menjadi dokter umum dan kakakku yang satu lagi masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negri. Karena melihat keberhasilan kedua kakakku, maka ayah dan ibuku pun menuntut hal yang sama dariku. Setiap kali aku mendapatkan nilai yang jelek, pasti habislah aku terkena amarah dari kedua orangtuaku. Bahkan ayah sering memukuliku dengan sabuknya.

Ketika itu aku mendapatkan nilai yang jelek di mata pelajaran sejarah, karena aku memang tidak terlalu pandai di bidang itu. Karenanya, makian dan cambukan ayah pun harus kuterima dengan lapang dada. Pamanku yang bernama Winata, masih berumur 26 tahun sudah sering membelaku ketika ayah marah karena aku mendapatkan nilai buruk. Tapi tampaknya pembelaannya sia-sia saja karena semakin dia membelaku, bukannya kasihan, ayah justru semakin geram dan Oom win selalu saja terkena makiannya pula.

Sambil menangis, aku pun mengadu ke Oom Win tentang perlakuan ayah di kamarnya yang persis berada di sebelah kamarku.

"Papa jahat, Oom"
"Sudah Anna, kamu tenang saja"
"Anna pengen mati aja Oom, badan Anna sakit semua dipukulin Papa terus"
"Hush jangan bilang gitu Anna, ayah tetap sayang kok sama kamu"

Kemudian aku menyingkapkan dasterku dengan tujuan menunjukkan pahaku yang sudah berwarna kebiru-kebiruan terkena pukulan ayah. Kemudian Oom Win beranjak mengambil body lotion dan membaringkan aku yang masih terisak-terisak di kasurnya.

"Sudah diam, jangan menangis terus, sini Oom pijitin"

Oom win dengan kelembutannya mengoleskan body lotion itu di pahaku dan memijit-memijit pahaku yang telah terbentang tanpa penutup di depan matanya.

"Auch Oom pelan-pelan, sakit Oom"
"Iya, Oom pelan-pelan kok Anna."

Karena memang aku sudah akrab dengan Oom Win sejak aku kecil, kami tumbuh bersama lebih sebagai kakak adik daripada hubungan paman-kemenakan. Kemudian Oom memegang bahuku untuk menenangkanku, tapi karena punggungku dan bahuku juga terkena pukulan ayah, maka aku pun mengerang kesakitan.

"Auch Oom sakit sekali punggung Anna"
"Coba kamu lepas saja daster nya Anna, biar Oom pijitin juga punggung kamu"

Aku pun mengambil posisi tengkurap ketika Oom Win memijat-memijat punggungku. Sesekali, tangannya yang lembut menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhku, terutama karena memang aku adalah remaja puber yang baru saja mendapatkan perubahan-perubahan di tubuhku. Tangannya sesekali menyentil bagian samping payudaraku, dan setiap kali itu pula badanku menyentak-menyentak.

"Kenapa kamu Anna, sakit ya?"
"Nggak kok Oom, cuman Anna kaget"
"Ooh, itu normal kok, tandanya kamu sudah dewasa"

Pipiku memerah menahan malu, karena ternyata Oom Win mengetahui apa maksudku. Kemudian dengan cepat Oom Win membalikkan badanku dan dia dapat melihat payudaraku yang mulai tumbuh besar dengan pentilnya yang mencuat dibawah miniset yang kupakai karena aku mulai terangsang, terutama karena pandangannya yang menyapu bagian-bagian tertentu dari tubuhku itu.

"Wah Anna, kok susu kamu sudah sebesar itu kamu masih pakai miniset?"

"Iya Oom, habis Anna tidak tahu harus bagaimana"
"Besok pulang sekolah ikut Oom yah ke mall kita beli BH buat kamu"
"Oom serius?"
"Iya, tapi kamu tahu nggak ukurannya?"
"Wah kalau itu sih Anna nggak tahu Oom, gimana dong?"
"Coba sini Oom lihat"

Dengan cepat pula Oom Win menarik miniset yang kupakai, dan refleks tanganku menutupi susuku yang tidak ditutupi dengan apapun juga. Pelan-Pelan tangan Oom Win menarik tanganku yang menutupi susuku itu.

"Gila, Anna, susu sebesar itu kamu masih pakai miniset. Kalau kamu di sekolah, pasti temen-temen kamu sering melihat pentil kamu dong"
"Iya Oom, temen-temen Anna yang cowok kadang-kadang ada yang jahil pura-pura tak sengaja menyenggol Anna punya"
"Tuh kan, barang segitu gede mustinya dibungkus yang bener, Anna"

Kemudian, dengan tangannya Oom Win mulai memegang-memegang susuku, mengusap-mengusapnya dengan body lotion tapi tidak menyentuh pentilnya.

"Wah ini pasti ukurannya 34B"
"Kok Oom tahu?"
"Oom cuman kira-kira, Anna, besok kita tanya aja sama Mbaknya yang jaga toko, OK?"

Sebelum aku menjawab pertanyaan Oom Win, tiba-tiba mulutnya sudah "ngempeng" di pentilku, karena kaget tubuhku tersentak dan bukannya mengelak, aku pun malahan membusungkan dadaku ke arah Oom Win. Tiba-Tiba Oom Win melepaskan mulutnya dari pentilku, dan seketika itu pula tubuhku semakin maju mengikuti arah kepalanya.

"Enak nggak Anna?"

Dengan malu-malu aku mengangguk dan dengan liar Oom Win mulai memegang-memegang susuku lagi, menggoyang-menggoyangkannya sambil memilin-memilin putingku yang sudah keras sekali. Kemudian, Oom Win keluar dari kamar dan ketika dia kembali, akan terjadi peristiwa yang lebih asik lagi.

Oom Win kembali ke kamarnya ketika aku masih mengelus-mengelus putingku sendiri.

"Lho, Anna, kamu lagi ngapain?"
"Um, um, lagi cobain sendiri Oom, ternyata geli-geli gimana gitu enak kok"

Oom Win ternyata mengambil 2 butir telur dari lemari es. Kemudian, dia mengikat kedua tanganku ke belakang (di belakang pinggang), dan setelah itu mencium bibirku. Ketika tubuhku tersentak karena aku merasakan pentilku telah beradu dengan benda dingin yang aneh, tanpa kusadari ternyata Oom Win mengelus-mengelus kan telur-telur itu tadi ke kedua pentilku. Karena aliran dingin itu pula, aku meronta-meronta kegelian dan tidak berdaya karena kedua tanganku masih terikat. Aku hanya bisa memaju mundurkan dadaku saja dan justru itu menambah keasyikan sendiri ketika kedua putingku kembali menyentuh telur yang dingin itu.

"Oom, Anna pengen pipis."
"Pipis aja disini, Anna, nggak Papa kok"

Karena memang aku belum pernah berhubungan sex sebelumnya, cairan yang keluar kental dan tak henti-hentinya itu ternyata lendir birahiku yang kuketahui setelah Oom Win sendiri menjelaskannya kepadaku.

Setelah "pipis" itu, aku merasakan badanku lemas terkulai. Dengan tangan yang masih terikat, Oom Win mulai melucuti celana dalamku.

"Oom, jangan dibuka Oom, Anna barusan aja pipis"
"Anna, biar Oom bersihkan pipisnya"

Kemudian Oom Win melepas celana dalamku yang sudah basah oleh lendir perawanku. Dengan liar, Oom Win menjilati memekku yang sudah basah itu.

"Geli ah Oom, kok Oom nggak jijik jilatin pipis Anna?"
"Hmph, hmph, memek kamu kenyal Anna"

Justru mendengar kata-kata jorok dari Oom Win itulah berahiku timbul lagi dan ketika memekku sudah merasakan nyot-nyotan yang hebat, aku pun berteriak.

"Sudah Oom, Anna mau pipis lagi"

Karena Oom Win benar-benar melepaskan lidahnya dari memekku, pinggulku dengan selangkangannya yang telah terbuka lebar dan berlendir itu pun terangkat. Kemudian setelah beberapa saat, Oom Win berbalik menjilatiku lagi. Dan tak lama kemudian, aku pun mengerang hebat.

"Arghh Oom, Anna pipis lagi Oom"

Cairan kental yang deras (lebih hebat dari yang pertama kurasakan) mengalir kembali di memekku. Oom Win mulai melucuti pakaiannya dan aku kaget melihat ujangnya berdiri tegak menantang.

"Lho kok bisa berdiri gitu sih Oom?"
"Memang itu keistimewaan laki-laki, Anna, ade Oom ini bisa juga lemes dan lucu tapi bisa juga jadi gede dan tegak"

Pelan-Pelan Oom Win mengarahkan ujangnya ke memekku.

"Oom, mau dimasukkan kemana Oom, memek Anna tidak berlubang"
Dengan sabar Oom Win berkata, "Setiap memek perempuan berlubang, Anna dan lubang itu baru berguna setelah ada laki-laki yang mau masuk ke lubang itu"
"Tapi Anna tidak pernah melihat lubangnya, Oom"
"Nanti kamu juga merasakannya, tidak usah ingin melihatnya, Anna"

Daging yang kenyal itu (kepala ujang Oom Win) mulai menggesek-menggesek bagian yang menonjol dari memekku, oleh karenanya cairan yang keluar tadi mulai lagi mengalir di memekku dan aku merasa lagi kegelian.

Karena masih perawan, maka lubang memekku mungkin memang sulit ditemukan oleh Oom Win. Sambil masih terus menggosok-menggosokkan kepala ujangnya, Oom Win memijit-memijit bibir memekku dan merekahkannya pelan-pelan. Dengan tangan yang masih terikat, aku meronta-meronta.

"Oom, sakit Oom"
"Kamu mau kita cari lubang itu nggak?"
"Mau Oom"

Oom Win mulai mengarahkan ujangnya ke lubang memekku. Pelan-Pelan dia menggesek-menggesek kan kepala ujang itu dan aku mulai merasakan adanya "lubang" di memekku. Pelan-Pelan sambil digosok-digosokkan maju mundur, akhirnya clep, ujang Oom Win masuk menembus selaput daraku.

"Arhh Oom, sakit sekali," darah segar pun mengalir di selangkanganku.

Dengan ujangnya yang masih menancap, Oom Win hanya tersenyum melihat reaksiku. Dia masih diam dan sambil pelan-pelan mengelus-mengelus bahuku dan susuku. Setelah aku agak tenang, Oom Win memutar-memutar pinggulnya sehingga aku merasa geli yang hebat di seluruh bagian rahimku dimana tertancap ujang Oom Win. Daging yang kenyal itu melesak-melesak menyenggol-menyenggol semua bagian seakan-seakan mengocok-mengocok isi perutku. Pelan-Pelan Oom Win mulai menggenjot ujangnya dengan memaju mundurkan ujang nya dari lubang di memekku.

"Memek kamu sempit sekali Anna, dede Oom serasa dipijitin"
"Argh Oom, ah, geli ah.."

Oom Win tidak hanya menggenjotku, tapi meremas-meremas putingku dengan liar, melumatnya dengan lidahnya mengecup-mengecupnya dan karena tanganku yang masih terikat di belakang punggung, aku pun hanya pasrah atas apa yang akan dilakukan Oom Win.

"Oomm Anna pipis lagi Oom"

Dan ketika cairan kental itu keluar lagi dari memekku, Oom Win masih menancapkan ujangnya di memekku sambil menunggu sampai gerak badanku agak melemah.

Setelah itu, tubuhku diangkatnya dan kakiku dilingkarkan ke pinggangnya, dan dia memainkan aku seperti bonekanya, naik turun dan oleh karena gerakan itu juga, setiap kali tubuhku bergoyang-bergoyang, pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu tipis dan bidang itu. Kegelian yang kurasakan makin hebat karena ujang Oom Win semakin melesak masuk ke dalam lubangku itu.

Direbahkannya lagi tubuhku dan diganjalnya pinggangku dan pantatku dengan tumpukan bantal sehingga memekku semakin terkuak lebar dan itu memudahkan Oom Win untuk menancapkan ujangnya di lubangku. Pada posisi itu pula akhirnya ujang Oom Win terasa berdenyut-berdenyut dan akhirnya menyemprotkan cairan yang banyak bersamaan dengan orgasmku yang terakhir.

Setelah itu, aku pun terbaring lemas dan pelan-pelan Oom Win melepaskan ikatan tanganku kemudian memandikan aku dan mengeringkanku dengan penuh kelembutan.

"Sekarang Anna sudah menjadi perempuan ya, Oom?"
"Iya, lubangnya ada kan Anna?"
"Eh iya Oom"
"Tapi, sebagai perempuan kamu tidak boleh sembrono memasukkan semua ujang-ujang ke dalam lubang memekmu itu, apalagi kalau sampai ujang-ujang itu menyemprotkan cairan seperti ujang Oom tadi"
"Kenapa Oom?"
"Karena cairan yang menyemprot itu berisi benih laki-laki, Anna. Kamu bisa saja hamil"

Karena wajahku pusat pasi mengetahui kenyataan itu, Oom Win menenangkan aku dan memberiku pil anti hamil untuk mencegah aku hamil.

Malam itu, aku tertidur pulas setelah "pipis" untuk kesekian kalinya dari hasil memilin-memilin puttingku sendiri. Setelah kejadian itu, setiap kali ayah memarahiku, lubangku tidak pernah menganggur untuk diisi ujang oleh Oom Win.


E N D